Syair
cinta ilahi
“Wahai
Tuhan aku bukanlah ahli surga, namun tak mampu menahan siksa neraka.” Kalimat barusan merupakan sepenggal syair dari salah seorang
penyair yang sangat masyhur pada zaman Bani Abbasiyah yakni Abu Ali Hasan bin
Hani’ al-Hakani atau yang lebih kita kenal sebagai Abu Nawas. Dalam sebuah
cerita mengatakan bahwa Abu Nawas membacakan syair tersebut ketika didalam alam
kubur untuk menjawab pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir. Namun cerita
ini bukanlah suatu hal yang harus kita percayai
mengingat bahwa ketika kelak di alam kubur mampu atau tidaknya kita
menjawab pertanyaan dari alam kubur ialah tergantung dengan amal yang telah
kita buat di dunia yang fana ini, apakah
itu amal kebaikan atau malah sebaliknya.
Namun
ada suatu hal yang menarik dari syair Abu nawas barusan kita bisa lihat secara
tidak langsung bahwa syair ini menggambarkan tentang bagaimana ketawadhuan,
kerendahan dan kelemahan seorang hamba di hadapan Tuhannya. Seperti dalam bait
“Ampunkan dosaku terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulahpengampun
dosa-dosa besar”. Terlihat jelas bagaimana lemahnya seorang hamba terhadap
Tuhannya karna hanya pada Tuhan lah tempat kita memohon ampunan.
Beberapa ulama terdahulu mendekatkan diri
terhadap tuhannya tidak hanya terbatas pada ibadah yang pada umumnya seperti
shalat, puasa, zakat atau ibadah lainnya, namun ada juga yang menambahkannya
dengan bait-bait syair cinta terhadap Tuhannya. Seperti salah seorang ulama
yang sangat dikenal keilmuannya dan kesufiiannya yakni Jalaludin Rumi dalam
syairnya. “
Aku
menjadi hamba, menjadi hamba, dan menjadi hamba...
Aku
hamba tak berdaya.
Malu
karena gagal menunaikan kehambaanku,
Maka,
kutundukan kepala...
Setiap
hamba akan bahagia jika dibebaskan.
Wahai
Tuhanku, aku bahagia karena menjadi hamba-Mu.”
Ungkapan-ungkapan
di Atas memberi kita pengecapan akan kedalaman antusiasme dan kesenangan yang
melimpah dari kehambaannya terhadap Allah. Sebagai kelanjutan dari ini, kita
jangan sampai lupa mengingat Bahwa Allah yang mahabesar telah mewahyukan
tujuan-Nya dalam penciptaan manusia di dalam kalam-Nya berikut ini:
Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Qs al-Dzariyat; 56),
Pada
dasarnya difahami bahwa seorang hamba yang beribadah kepada tuhan-Nya hanya
terbatas kelak akan ditempatkan dimana ia ketika di akhirat nantinya, apakah
itu syurga yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan yang tiada batasnya atau
malah menuju ke nereka yang penuh dengan derita dan kesengsaraan. Padahal
hakikatnya seorang hamba beribdah semata-mata mengharap cinta dan ridho
dari-Nya.
Para
sufi seringkali menggunakan metafora pengalaman batin mereka dengan sejumlah
syair yang teramat indah, mengingat, syathahat atau kata-kata jadzabiyahnya
sulit diuraikan dengan bahasa formal.
Tema cinta menjadi tema utama dalam sastra sufi,
menurut Dr. Abdul Hadi W.M karena cinta merupakan peringkat keruhanian
tertinggi dan terpenting dalam dunia sufi. Hanya dengan cintalah
ungkapan-ungkapan perasaan antara seorang sufi dengan Tuhannya dapat termanifestasikan.
Cinta bukan sekedar cinta biasa. Cinta dalam kehidupan sufi adalah cinta
altruis pada yang dicintainya., seorang pencinta Tuhan dalam cintanyapun tidak
akan mengatasnamakan dirinya sendiri dalam setiap munajatnya. Cinta seperti
inilah yang disebut cinta sejati, cinta yang terdiri dari; keintiman (uns)
seorang pecinta dan yang dicintainya, kerinduan (syawq), kecenderungan hati
(mahabbab), ketulusan, dan kesabaran (sabr). Tidak jauh berbeda dengan Rumi,
Rabiah al-Adawiyah-pun dalam setiap sajak dan pusinya begitu bermandikan cahaya
cinta;
Saudara-saudaraku, Khalwat merupakan ketenangan dan
kebahagiaankuKekasihku selalu di hadapankuTak mungkin aku mendapat
pengganti-NyaCinta-Nya pada makhluk cobaan bagiku, hati yang ikhlas, tumpuan
harapanBerikanlah jalan untuk meredam keresahankuO, Tuhan, sumber bahagia dalam
hidupkuPada-Mu saja, kuserahkan hidup dan keinginan
Kupusatkan seluruh jiwa ragakuDemi mencari
ridha-MuApakah harapanku akan terwujud?
Agak berbeda dengan sufi Rumi, Rabiah yang terkenal
cantik, tetap tidak menikah dikarenakan kecintaannya pada Allah. Dengan begitu
cinta menurut Rabiah adalah totalitas cinta yang dapat diberikan kepada yang
kekasihnya. Seorang pecinta harus rela berkorban demi yang dicintainya. Seperti
halnya Rabiah yang rela mengorbankan apapun demi mendapatkan keridhaan dari
cintanya. Meskipun pada akhirnya dalam kesufian Rumi totalitas cintanyapun
muncul ketika muncul tokoh sufi misterius yang menjadi kawan sekaligus guru
sufinya-Syamsi Tabriz. Namun, totalitas cinta yang dimiliki Rabiah terlihat
lebih besar dibandingkan Rumi. Terlihat dari bait terakhir puisinya di atas.
Dia berkorban hanya karena berharap akan keridhaan sang kekasih, apapun ia
lakukan untuk itu. Selain cinta Rabiah hanya diberikan pada seorang kekasih
semata, hanya Tuhannya. Sedangkan di dalam hubungan percintaan Rumi, terlihat
ada hubungan percintaan segitiga antara Rumi, Syam, dan Allah. Rumi begitu
mencintai Syam sampai tergila-gila karena sempat ditinggal, sedangkan kecintaan
Rumi pada Allah-pun tidak diragukan. Meskipun kita juga harus melihat siapa
sebenarnya Syam ini. Tokoh Syamsi Tabriz ini jangan-jangan hanyalah tokoh
karangan yang dibuat Rumi untuk menjadi sosok pengganti bagi Allah. Dan jika
memang demikian, kesimpulan lainpun harus dibuat. Namun demikian pendapat umum
yang beredar tentu bahwa Syamsi Tabriz ini adalah guru spiritual Rumi. Yang
karenanya, murid-murid Rumi merasa dicampakkan oleh gurunya dan mereka kemudian
sepakat mengusir Syam secara diam-diam dari kehidupan Rumi.
Tema utama dalam sastra sufi memang adalah cinta
ilahi. Namun, selain tema ini, tema lainpun tetap menjadi bagian penting dalam
sastra sufi.
Rabiah al-Adawiyah (w. 764 M) dan Totalitas Cintaanya
Sebelum masa Rabiah al-Adawiyah datang, mistisisme
Arab cenderung masih berupa gerakan yang benar-benar mementingkan kehidupan
akhirat dan menafikan dunia. Hidup para orang-orang sufi identik dengan
kesederhanaan bahkan kemelaratan minim keindahan. Mereka berkelana dengan baju
wool yang pada umumnya terlihat lusuh. Menyendiri dan jarang beraktivitas
bersama masyarakat. Dalam hubungannya dengan Tuhanpun mereka mengandalkan
tawakal dan takwa. Rabiah al-Adawiyah datang dan sedikit demi sedikit merubah
pandangan tersebut. Meski jalan asketis tetap tidak ditinggalkan, namun Rabiah
telah memberi warna lain dalam kehidupan tasawuf. Dengan sajak dan
munajat-munajat yang ia lantunkan pada Allah, benih-benih Cinta mulai tumbuh di
dalam tasawuf.
Rabiah yang sejak kecil sudah terbiasa hidup
menderita, mencari-cari hakikat hidup yang ia jalani. Sambil meneruskan usaha
ayahnya menyeberangkan orang dengan perahu yang diwarisinya, ia tetap selalu
beribadah pada Allah setiap saat. Kian hari kian ia semakin khusuk beribadah
pada Allah, ia mencari ridha-Nya. Namun, ia tetap dalam kepedihan dan kesedihan
karena merasa masih jauh dengan apa yang dicarinya. Ketika sedang khusuk
tiba-tiba didengarlah suara menyebut namanya. “Rabiah janganlah engkau bersedih
hati. Pada hari kiamat nanti orang-orang shaleh akan menaruh hormat padamu.”
Dan inilah salah satu munajat Rabiah pada Tuhan;Oh
Tuhanku…Orang-orang berkhalwat ingin dekat dengan-MuIkan-ikan di laut bebas
memuji keesaan-MuDemi keagungan-Mu bergelora ombak-ombak di lautDemikian malam
gelap gulitaCahaya siang terang bahtera
berlayar di laut bebasBulan purnama bersinar cerah. Bintang
berkelap-kelipSemuanya menunjukkan keagungan-MuKarena Engkau Mahakuasa
Kecintaannya pada Allah tiada taranya.
Ia menghabiskan
waktu-waktunya hanya untuk mengingat Allah. Orang lain mungkin telah
menganggapnya gila karena ia sering mengucapkan kalimat-kalimat yang sulit
dimengerti. Namun dibalik kata-kata yang sulit dimengerti orang awam,
lantunan-lantunan nyanyian cinta telah ia panjatkan pada kekasihnya. Diala
Rabiah al-Adawiyah sang mistikus perempuan paling populer di dunia Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar