Jumat, 30 Oktober 2015

Syair cinta ilahi
“Wahai Tuhan aku bukanlah ahli surga, namun tak mampu menahan siksa neraka.” Kalimat barusan merupakan sepenggal syair dari salah seorang penyair yang sangat masyhur pada zaman Bani Abbasiyah yakni Abu Ali Hasan bin Hani’ al-Hakani atau yang lebih kita kenal sebagai Abu Nawas. Dalam sebuah cerita mengatakan bahwa Abu Nawas membacakan syair tersebut ketika didalam alam kubur untuk menjawab pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir. Namun cerita ini bukanlah suatu hal yang harus kita percayai  mengingat bahwa ketika kelak di alam kubur mampu atau tidaknya kita menjawab pertanyaan dari alam kubur ialah tergantung dengan amal yang telah kita buat di dunia yang fana ini,  apakah itu amal kebaikan atau malah sebaliknya.
Namun ada suatu hal yang menarik dari syair Abu nawas barusan kita bisa lihat secara tidak langsung bahwa syair ini menggambarkan tentang bagaimana ketawadhuan, kerendahan dan kelemahan seorang hamba di hadapan Tuhannya. Seperti dalam bait “Ampunkan dosaku terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulahpengampun dosa-dosa besar”. Terlihat jelas bagaimana lemahnya seorang hamba terhadap Tuhannya karna hanya pada Tuhan lah tempat kita memohon ampunan.
 Beberapa ulama terdahulu mendekatkan diri terhadap tuhannya tidak hanya terbatas pada ibadah yang pada umumnya seperti shalat, puasa, zakat atau ibadah lainnya, namun ada juga yang menambahkannya dengan bait-bait syair cinta terhadap Tuhannya. Seperti salah seorang ulama yang sangat dikenal keilmuannya dan kesufiiannya yakni Jalaludin Rumi dalam syairnya.
Aku menjadi hamba, menjadi hamba, dan menjadi hamba...
Aku hamba tak berdaya.
Malu karena gagal menunaikan kehambaanku,
Maka, kutundukan kepala...
Setiap hamba akan bahagia jika dibebaskan.
Wahai Tuhanku, aku bahagia karena menjadi hamba-Mu.”
Ungkapan-ungkapan di Atas memberi kita pengecapan akan kedalaman antusiasme dan kesenangan yang melimpah dari kehambaannya terhadap Allah. Sebagai kelanjutan dari ini, kita jangan sampai lupa mengingat Bahwa Allah yang mahabesar telah mewahyukan tujuan-Nya dalam penciptaan manusia di dalam kalam-Nya berikut ini:
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Qs al-Dzariyat; 56),
Pada dasarnya difahami bahwa seorang hamba yang beribadah kepada tuhan-Nya hanya terbatas kelak akan ditempatkan dimana ia ketika di akhirat nantinya, apakah itu syurga yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan yang tiada batasnya atau malah menuju ke nereka yang penuh dengan derita dan kesengsaraan. Padahal hakikatnya seorang hamba beribdah semata-mata mengharap cinta dan ridho dari-Nya.

Para sufi seringkali menggunakan metafora pengalaman batin mereka dengan sejumlah syair yang teramat indah, mengingat, syathahat atau kata-kata jadzabiyahnya sulit diuraikan dengan bahasa formal.
Tema cinta menjadi tema utama dalam sastra sufi, menurut Dr. Abdul Hadi W.M karena cinta merupakan peringkat keruhanian tertinggi dan terpenting dalam dunia sufi. Hanya dengan cintalah ungkapan-ungkapan perasaan antara seorang sufi dengan Tuhannya dapat termanifestasikan. Cinta bukan sekedar cinta biasa. Cinta dalam kehidupan sufi adalah cinta altruis pada yang dicintainya., seorang pencinta Tuhan dalam cintanyapun tidak akan mengatasnamakan dirinya sendiri dalam setiap munajatnya. Cinta seperti inilah yang disebut cinta sejati, cinta yang terdiri dari; keintiman (uns) seorang pecinta dan yang dicintainya, kerinduan (syawq), kecenderungan hati (mahabbab), ketulusan, dan kesabaran (sabr). Tidak jauh berbeda dengan Rumi, Rabiah al-Adawiyah-pun dalam setiap sajak dan pusinya begitu bermandikan cahaya cinta;
Saudara-saudaraku, Khalwat merupakan ketenangan dan kebahagiaankuKekasihku selalu di hadapankuTak mungkin aku mendapat pengganti-NyaCinta-Nya pada makhluk cobaan bagiku, hati yang ikhlas, tumpuan harapanBerikanlah jalan untuk meredam keresahankuO, Tuhan, sumber bahagia dalam hidupkuPada-Mu saja, kuserahkan hidup dan keinginan
Kupusatkan seluruh jiwa ragakuDemi mencari ridha-MuApakah harapanku akan terwujud?
Agak berbeda dengan sufi Rumi, Rabiah yang terkenal cantik, tetap tidak menikah dikarenakan kecintaannya pada Allah. Dengan begitu cinta menurut Rabiah adalah totalitas cinta yang dapat diberikan kepada yang kekasihnya. Seorang pecinta harus rela berkorban demi yang dicintainya. Seperti halnya Rabiah yang rela mengorbankan apapun demi mendapatkan keridhaan dari cintanya. Meskipun pada akhirnya dalam kesufian Rumi totalitas cintanyapun muncul ketika muncul tokoh sufi misterius yang menjadi kawan sekaligus guru sufinya-Syamsi Tabriz. Namun, totalitas cinta yang dimiliki Rabiah terlihat lebih besar dibandingkan Rumi. Terlihat dari bait terakhir puisinya di atas. Dia berkorban hanya karena berharap akan keridhaan sang kekasih, apapun ia lakukan untuk itu. Selain cinta Rabiah hanya diberikan pada seorang kekasih semata, hanya Tuhannya. Sedangkan di dalam hubungan percintaan Rumi, terlihat ada hubungan percintaan segitiga antara Rumi, Syam, dan Allah. Rumi begitu mencintai Syam sampai tergila-gila karena sempat ditinggal, sedangkan kecintaan Rumi pada Allah-pun tidak diragukan. Meskipun kita juga harus melihat siapa sebenarnya Syam ini. Tokoh Syamsi Tabriz ini jangan-jangan hanyalah tokoh karangan yang dibuat Rumi untuk menjadi sosok pengganti bagi Allah. Dan jika memang demikian, kesimpulan lainpun harus dibuat. Namun demikian pendapat umum yang beredar tentu bahwa Syamsi Tabriz ini adalah guru spiritual Rumi. Yang karenanya, murid-murid Rumi merasa dicampakkan oleh gurunya dan mereka kemudian sepakat mengusir Syam secara diam-diam dari kehidupan Rumi.
Tema utama dalam sastra sufi memang adalah cinta ilahi. Namun, selain tema ini, tema lainpun tetap menjadi bagian penting dalam sastra sufi.
Rabiah al-Adawiyah (w. 764 M) dan Totalitas Cintaanya
Sebelum masa Rabiah al-Adawiyah datang, mistisisme Arab cenderung masih berupa gerakan yang benar-benar mementingkan kehidupan akhirat dan menafikan dunia. Hidup para orang-orang sufi identik dengan kesederhanaan bahkan kemelaratan minim keindahan. Mereka berkelana dengan baju wool yang pada umumnya terlihat lusuh. Menyendiri dan jarang beraktivitas bersama masyarakat. Dalam hubungannya dengan Tuhanpun mereka mengandalkan tawakal dan takwa. Rabiah al-Adawiyah datang dan sedikit demi sedikit merubah pandangan tersebut. Meski jalan asketis tetap tidak ditinggalkan, namun Rabiah telah memberi warna lain dalam kehidupan tasawuf. Dengan sajak dan munajat-munajat yang ia lantunkan pada Allah, benih-benih Cinta mulai tumbuh di dalam tasawuf.
Rabiah yang sejak kecil sudah terbiasa hidup menderita, mencari-cari hakikat hidup yang ia jalani. Sambil meneruskan usaha ayahnya menyeberangkan orang dengan perahu yang diwarisinya, ia tetap selalu beribadah pada Allah setiap saat. Kian hari kian ia semakin khusuk beribadah pada Allah, ia mencari ridha-Nya. Namun, ia tetap dalam kepedihan dan kesedihan karena merasa masih jauh dengan apa yang dicarinya. Ketika sedang khusuk tiba-tiba didengarlah suara menyebut namanya. “Rabiah janganlah engkau bersedih hati. Pada hari kiamat nanti orang-orang shaleh akan menaruh hormat padamu.”
Dan inilah salah satu munajat Rabiah pada Tuhan;Oh Tuhanku…Orang-orang berkhalwat ingin dekat dengan-MuIkan-ikan di laut bebas memuji keesaan-MuDemi keagungan-Mu bergelora ombak-ombak di lautDemikian malam gelap gulitaCahaya siang terang  bahtera berlayar di laut bebasBulan purnama bersinar cerah. Bintang berkelap-kelipSemuanya menunjukkan keagungan-MuKarena Engkau Mahakuasa Kecintaannya pada Allah tiada taranya.
 Ia menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk mengingat Allah. Orang lain mungkin telah menganggapnya gila karena ia sering mengucapkan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti. Namun dibalik kata-kata yang sulit dimengerti orang awam, lantunan-lantunan nyanyian cinta telah ia panjatkan pada kekasihnya. Diala Rabiah al-Adawiyah sang mistikus perempuan paling populer di dunia Islam.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar